Dalam rangka menjaga tali silaturahmi, seluruh civitas akademika Institut Agama Islam Ma’arif Nahdlatul Ulama (IAIMNU) menggelar acara Halal Bihalal pada senin (09/05/22). Kegiatan yang diselenggarakan secara Langsung ini di hadiri oleh Rektor,Dosen dan Staff kampus IAIMNU Metro-Lampung. Ada beberapa agenda yang di lakukan dalam acara tersebut,,salah satu nya Istighosah yang dalam hal ini di imami langsung oleh K.H Ahmad Zarnuji.

Rektor IAIMNU Dr. Mispani M.Pd.I mengemukakan hari raya idul fitri merupakan hari yang sangat agung dan istimewa. Itu dikarenakan kehadiran idul fitri menjadikan seluruh umat muslim kembali ke fitrahnya, termasuk keluarga besar IAIMNU.

“Izinkan kami pada kesempatan kali ini menjadikan idul fitri menjadi momentum untuk menemukan kembali fitroh kita, baik personal maupun kolektif, dan menjadikannya sebagai acuan untuk mewarnai semua aktivitas kita,” tuturnya.

“Atas nama manajemen, rektorat dan semua pimpinan, izin kami mengucapkan selamat idul fitri, mohon maaf jika selama berinteraksi ada ketidaknyamanan dalam bentuk kebijakan ataupun pelayanan,” ucapnya saat memberikan sambutan.

Prof Dr Muhammad Quraish Shihab dalam NU Online menjelaskan bahwa memahami istilah Halal bihalal halal yang digagas oleh KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) adalah :

Dari segi hukum fikih., Halal yang oleh para ulama dipertentangkan dengan kata haram, apabila diucapkan dalam konteks halal bihalal memberikan pesan bahwa mereka yang melakukannya akan terbebas dari dosa.

Dengan demikian, halal bihalal menurut tinjauan hukum fikih menjadikan sikap yang tadinya haram atau yang tadinya berdosa menjadi halal atau tidak berdosa lagi.

Ini tentu baru tercapai apabila persyaratan lain yang ditetapkan oleh hukum terpenuhi oleh pelaku halal bihalal, seperti secara lapang dada saling maaf-memaafkan.

Kesimpulannya adalah :

  1. Bahwa maksud halal bihalal menuntut pelaku yang terlibat di dalamnya agar menyambung hubungan yang putus, mewujudkan keharmonisan dari sebuah konflik, dan berbuat baik secara berkelanjutan.
  2. Pesan yang berupaya diwujudkan Kiai Wahab Chasbullah melalui tradisi halal bihalal lebih dari sekadar saling memaafkan, tetapi mampu menciptakan kondisi di mana persatuan di antar-anak bangsa tercipta untuk peneguhan negara.
  3. Disamping itu halal bihalal ini identik dengan perayaan idul fitri. Sebagaimana kita ketahui bahwa tradisi nusantara setiap idul fitri selalu berkunjung saling meminta maaf baik kepada orang tua, saudara, sahabat dan handai taulan. Akan tetapi waktu dan aktifitas manusia terbatas maka dengan adanya halal bihalal ini sebagai solusi bagi siapa saja yang tidak sempat saling berkunjung.
  4. Oleh karena itu, halal bihalal lebih dari sekadar ritus keagamaan, tetapi juga kemanusiaan, kebangsaan, dan tradisi yang positif karena mewujudkan kemaslahatan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website