Institut Agama Islam Ma’arif Nahdlatul Ulama (IAIM-NU) Metro, Lampung, kembali meyudisium sarjananya untuk Tahun Akademik 2015-2016. Ahad (11-4), Rektor Mispani, mengukuhkan 293 orang dari 8 program studi dari Fakultas Tarbiyah dan Syariah dan Ekonomi Islam.

Acara ini dihadiri Kasibdit Ketenagaan Kementrian Agama Republik Indonesia, Dr. Imam Syafi’I. Dengan begitu semangat, pejabat yang berasal dari Purbolinggo, Lampung Timur ini, mengajak seluruh civitas akademik IAIM-NU Metro berani merintis dan membangun sebuah cita-cita besar.

Menurut dia, orang besar bermula dari kepemilikan cita-cita yang besar pula. Sebab, dengan cita-cita itu, yang bersangkutan akan senantiasa berusaha mewujudkannya. Dengan begitu, dia tidak akan pernah berhenti untuk belajar dan berlatih untuk mewujudkannya. Akibatnya, ilmu dan keterampilannya akan semakin terasah, sehingga jalannya juga akan semakin mudah.

“Saya sangat menyesal ketika mendapati dosen atau sarjana di sini puas hanya dengan cita-cita kecil dan tercapai,” ujar beliau dalam kuliah umumnya yang penuh semangat di halaman kampus stemapat. Sejumlah pejabat daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan akademisi, juga hadir pada kesempatan itu.

Peserta yudisium itu terdiri dari lulusan program studi hukum keluarga (Ahwal al-Syahsyiyah) 21 orang, Perbankan Syariah (6), D-3 Perbankan Syariah (10), Pendidikan Agama Islam (86), Pendidikan Bahasa Inggris (39), Pendidikan Matematika (17), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (36), dan Pendidikan Bahasa Arab (8).

Dia pun mencontohkan sejumlah tokoh yang gagal dalam menyelesaikan pendidikan tingginya akan tetapi mampu membangun cita-cita besar dan berhasil. Mereka, sebut Syafi’i, antara lain K.H. Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarno Putri yang mampu menjadi presiden. Susi Pudjiastuti dan Dahlan Islam yang mampu menjadi pengusaha sekaligus menteri.

“Kalau mereka yang tidak berpendidikan tinggi saja berani memiliki cita-cita besar dan mampu mewujudkannya, kenapa anda tidak?” ujar Syafi’i. Apalagi, saat ini, kesempatan untuk memperoleh pendidikan tinggi maupun mengembangkan diri dan kemampun semakin luas dan terbuka.

Semua siswa mulai dari SD/MI hingga mahasiswa bukan saja berkesempatan memperoleh beasiswa dari berbagai pihak terutama pemerintah dan swasta. Mereka juga bisa mengakses lebih luas berbagai peluang untuk memperoleh pendidikan setinggi mungkin maupun berbagai keterampilan yang diinginkan. Pihak swasta pun banyak yang menyuport hal itu.

Menurut pejabat yang saat kuliah sempat melanglang buana di sejumlah daerah di Indonesia itu, saat ini siswa Madrasah Aliyah (MA) juga memiliki kesempatan yang sama dengan SMA, khususnya yang berbasis pondok pesantren. Sejak 2005 hingga kini, pihaknya mendata 3.500 lulusan terbaik yang kemudian dengan beasiswa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi umum dan terkenal di Indonesia.

Mereka pun tidak lagi mengambil jurusan agama dengan segala variannya, akan tetapi justru memilih kompetensi informatika dan computer, kebidanan, teknik sipil, bahkan matematika dan fisika. Bahkan, bagi mereka yang tak puas dengan itu, dikirim ke sejumlah universitas di Amerika Serikat, Inggris, Cina, Thailand, dan Malaysia.

Syafi’i yakin semakin banyak mahasiswa yang memiliki cita-cita besar dan berusaha mewujudkannya, pada 2025 kelak Indonesia akan banyak dipimpin orang-orang yang hebat. Karena itu, dia mengharapkan para sarjana baru IAIM NU itu membangun cita-cita besar dengan membangun jaringan. M. IKHWANUDDIN

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website