METRO (Lampost): Pernikahan dalam Islam pada dasarnya mogami. Seorang suami berumah tangga dengan seorang istri. Peluang poligami terbuka ketika suami melakukannya dalam rangka menolong dan mencari manfaat yang lebih besar, dari yang sudah didapat sebelumnya.

Itupun—meskipun dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. dan sejumlah sahabatnya, sama sekali bukan merupakan perintah mulai dari tingkatan sunnah hingga wajib. Syariat ini lebih merupakan rukhsah atau pembolehan karena adanya berbagai sebab, terutama menghindarkan suami dari bahaya atau kemaksiatan.

Karena itu, poligami pun harus memenuhi persyaratan yakni berupa keadilan. Hanya saja, pengertian adil di sini bukanlah seperti adil dalam fisika maupun matematika yakni benar-benar sama atau setimbang dalam memperlakukan para istri yang dimiliki suami.

Sebab, Allah swt juga pernah mengingat Nabi Muhammad saw. dalam surat Al-Nisa’ ayat 129 dan utusan Allah swt itupun mengakuinya. Adil dimaksud lebih ditujukan atas nafkah dan giliran bermalam, bukan dalam urusan perasaan dan cinta kepada masing-masing istri.

Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUA) Institut Agama Islam Ma’arif Nahdlatul Ulama (IAIM-NU) Metro, Lampung, Drs. H.M. Ikhwanuddin, M.Kom.I mengatakan hal itu pada Seminar Hari Ibu yang diselenggarakan Dewan Mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) di kampus setempat, Sabtu (27-12).

Selain dia, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Eknomi Islam H. Ahmad Muslimin, LC., M.H.I. dan Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Drs. H. Ahmad Zarnuji juga tampil sebagai nara sumber dengan topik yang berbeda, yang mengupas tentang peran ibu di wilayah publik dan domestik.

Karena itu, Ikhwan mengharapkan umat Islam lebih cermat dalam memahami, menerapkan, sekaligus menyikapi poligami. Sebab, penolakan terhadap hal itu berarti menolak syariat Islam karena Allah swt. tidak melarang sementara Nabi saw. justru mencontohkannya.

Meskipun begitu, berpoligami dengan menafikan latar belakang yakni menghindarkan bahaya, menolong, dan mencari manfaat yang leibh besar, adalah sama dosanya dengan menolak syariat ini. Apalagi, jika poligami itu lebih didasarkan pada memperturutkan hawa nafsu, terutama dalam hal seksual.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website