IAIMNU Metro Lampung : Peringatan Resolusi Jihad yang difatwakan Rois Akbar PBNU, K.H. Hasyim Asy’ari, pada 22 Oktober 1945—yang kemudian ditetapkan Pemerintah Pusat sebagai Hari Santri Nasional—di Lapangan Merdeka Mulyojati, Metro Barat, kemarin berlangsung semarak.

Sekitar 8.000 warga dari berbagai lembaga, lajnah, badan otonom, sekolah, perguruan tinggi, badan usaha, dan pondok pesantren, berangkat dari lokasi masing-masing dengan berkonvoi. Sebagian besar menggunakan kendaraan roda dua dan empat, namun banyak pula yang menempuhnya dengan berjalan kaki.

Mereka hadir dengan mengibarkan panji komunitasnya; ada GP Ansor, Muslimat NU, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, PMII, dan LPS-NU. Belum lagi, berbagai komunitas kesenian seperti hadrah, rebana, dan tari daerah maupun nasional. Bahkan, kelompok yasinan juga tak mau ketinggalan.

Warga Nahdliyin—sebutan khusus untuk warga NU—itu juga mengusung berbagai slogan dan poster, di antaranya berbunyi: “NKRI Harga Mati”, “Pertahankan Pancasila dalam Wadah NKRI”, “Bebaskan Metro Korupsi dari dan Pungli, “Ciptakan Kota Pendidikan Antiradikalisme”, dan “Ciptakan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin”.

Selain apel, berbagai elemen NU itu juga menggelar berbagai atraksi. Elit GP Ansor yang tergabung dalam Barisan Ansor Serbaguna (Banser) menampilkan kemampuan untuk mematahkan per mobil. Kegiatan ini mengundang decak kagum para pengunjung.

Apalagi, disusul dengan pertunjukkan para pesilat yang tergabung dalam Lembaga Pencak Silat Pargar Nusa (LPS-NU) yang menampilkan kemampuan untuk bertahan saat kepalanya dikepruk dengan dua keping genting kodok. Ditambah lagi dengan ketahanan saat salah seorang dari mereka dilindas sepeda motor.

Ketua PC NU Metro, K.H. Ali Qomaruddin, dalam amanatnya mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama adalah elemen penting bagi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKR). Lagi pula, dalam perkembangannya, komunitas ini merupakan pelopor bagi penerimaan Pancasila sebagai asas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, NU bukan saja merupakan komunitas yang sangat agamis akan tetapi juga benar-benar nasionalis. Sebab, umat Islam harus bukan saja harus mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bagi diri dan kelompoknya, akan tetapi juga harus bisa merambah seluruh umat manusia atau rahmatan lil ‘alamin.

Karena itu, meskipun terlambat, dia menyambut gembira ketika pemerintah mengakui begitu besarnya jasa para ulama dengan pesantrennya, dalam merintis, membentuk, dan membangun bangsa dan negara. Salah satunya, melalui fatwa Resolusi Jihad Rois Akbar PBNU, K.H. Hasyim Asy’ari, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website