REKTOR Institut Agama Islam Ma’arif Nahdlatul Ulama (IAIM-NU) Metro, Mispani, Sabtu (12-9) meyudisium 232 lulusan pertama TA 2015-2016. Acara dilaksankan di aula kampus setempat, dihadiri seluruh sivitas akademika dan Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Metro, Ismail.

 Para lulusan yang dikukuhkan sebagai alumni itu dari program studi (Prodi) Pendidikan Agana Islam (PAI) 77 orang,  Pendidikan Bahasa Inggris (16), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) (62), Pendidikan Matematika (50), dan Pendidikan Bahasa Arab yang baru saja meluluskan (4).

 Lulusan dari Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam terdiri dari Hukum Keluarga (Ahwal al-Syahsiyyah) tiga orang, Perbankan Syariah (12), D-3 Perbankan Syariah (8). Dengan jumlah yang relatif sama, diperkirakan akan diyudisium pada periode kedua tahun depan.

 Pada kesempatan itu, Dias Anggraini dikukuhkan sebagai peserta yudisium terbaik. Sarjana D-3 Perbankan Syariah yang lahir di Metro 23 Mei 1994, itu berhasil meraih indeks prestasi komulatif (IPK) 3,85 atau dengan pujian.

 Predikat terbaik kedua ditempati Indah Yulianti dari Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (Prodi PGMI), yang berhasil mendapatkan IPK 3,79 atay debgan pujian. Peringkat ini juga ditempati Imam Gozali. Lulusan Prodi Pendidikan Bahasa Arab ini yang baru kali pertama meluluskan ini berhail mengumpulkan IPK yang sama.

 Sedangkan peringkat terbaik ketiga ditempati Purwati dari Prodi Perbankan Syariah. Lulusan asal Karyajaya yang lahir 4 Februari 1990 ini mendapat IPK 3,75. Mereka adalah lulusan berprestasi, yang mampu mengalahkan 228 rekannya, pada periode yang sama.

 Rektor IAIM-NU Metro, Mispani, dalam sambutannya mengingatkan bahwa para lulusan berprestasi yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-2 akan diberi beasiswa. “Ini adalah komitmen kami untuk mengembangkan kompetensi para lulusan, sekaligus menumbuhkembangkan intelektual muda yang benar-benar profesional dan siap pakai.

 Menurut dia, stimulus itu ternya mampu menggugah semangat para lulusan untuk tidak berpuas diri degan pendidikan S1-nya. Saat ini, lanjut dia, ada lulusan IAIM-NU yang tengah menempuh pendidikan S-2 di sejumla universitas di Jawa. Satu di antaranya tengah menyelesaikan pendidikan S3-nya di Universtias Indonesia.

 “Itu artinya, lulusan kita bukan saja mendapat pengakuan dan diperhitungkan dalam kancah nasional, sekaligus mampu berprestasi dan bersaing dengan lulusan perguruan tinggi lain,” kata Mispani. Apalagi, Raudlatul Jananah, salah seorang dosen setempat, juga baru saja berangkat untuk menambah ilmu di Amerika Serikat.

 Karena itu, dia mengharapkan kepada para lulusan untuk tidak berpuas diri dengan ilmu ataupun jenjang pendidikan yang telah diselesaikan. Sebab, semakin tinggi pendidikan yang diperoleh, akan semakin lebar lapangan kerja yang terbuka untuknya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website