Vivin Nurul Hidayah berhasil menjadi mahasiswa dengan prestasi terbaik Institut Agama Islam Ma’arif Nahdlatul Ulama (IAIM-NU) Metro Tahun Akademik 2014-2015. Sarjana dari Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) mampu meraih indeks prestasikomulatif (IPK) 3,85 atau predikat dengan pujian.

     Terbaik kedua dan ketiga juga direbut sarjana asal jurusan yang sama yakni Atika Damayanti dengan IPK 3,77 dan Siti Fatimah dengan IPK 3,75. Dengan begitu, jurusan PGMI berhasil merebut semua lulusan terbaik pada institut yang belum genap satu tahun itu.

     Prestasi tersebut, terungkap pada yudisium angkatan pertama TA 2014-2015 IAIM-NU, kemarin. Acara yang berlangsung di aula kampus setempat itu, diikuti 244 orang, 117 dari Program Studi Pendidikan Agama Islam (Prodi PAI), PGMI (52), Pendidikan Bahasa Inggris (8), Pendidikan Matematika (57), dan Perbankan Syariah(10).

     Adapun lulusan terbaik Prodi PAI disabet Ali Rohmad dengan IPK 3,72, disusul Nita Puspita Sari (3,69) dan Mudzakir (3,67) sebagai terbaik kedua dan ketiga. Juwita mampu menjadi lulusan terbaik Prodi Pendidikan Bahasa Inggris dengan IPK 3,59, disusul Lia Putriyani (3,57), dan Erlinda Sari (3,56).

     Prestasi terbaik Jurusan Pendidikan Matematika direbut Jamiatul Qorrotul A’yun dengan IPK 3,66, dilanjutkan Eka Astri Maulita sebagai terbaik kedua dengan IPK 3,60 dan terakhir Rizky Wahyuni dengan IPK 3,48. Sedangkan terbaik pertama Jurusan Perbankan Syariah diperoleh Muhammad Ibnu Soim dengan IPK 3,65, Novita Ayuningsih (3,58), dan Heppi Tri Apriliani (3,56).

     Rektor IAIM-NU Metro, Mispani, dalam amanatnya mengingatkan seluruh sarjana baru itu tidak boleh puas apalagi berbangga diri atas kelulusan tersebut. Sebab, ilmu dan keterampilan yang mereka dapat harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Itupun, tidak hanya pada dunia pekerjaan semata akan tetapi juga pada kehidupan bermasyarakat.

     “Karena itu, para sarjana bukan saja harus cerdas secara intelektual, emosional, maupun spiritual, akan tetapi yang tak kalah pentingnya adalah juga harus cerdas sosial,” ujar Mispani. Hal itu, sekaligus menjadi pembeda antara lulusan IAIM-NU dan perguruan tinggi lain.

     Menurut dia, banyak ruang publik kosong karena bukan saja tidak diminati akan tetapi juga jarang yang memiliki kompetensi untuk mengisinya. Bahkan, dari pekerjaan itu secara langsung ataupun tidak juga menjanjikan keuntungan secara finansial. Di antara ruang tersebut adalah pengelola zakat maupun wakaf, prifat pendidikan agama, dan majelis taklim. n NUD

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website