Civitas akademik Institut Agama Islam Ma’arif Nahdlatul Ulama (IAIM-NU) Metro Sabtu (10-1) menggelar Lokakarya Koperasi Strategi Pengembangan Lembaga Keuangan di Lingkungan NU. Dirut Induk Koperasi Syirkah Muawanah Nusantara (Inkopsinus), Fahmi Akbar Idris (kanan), hadir sebagai pemateri.

Civitas akademik Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAIM-NU) Metro memfasilitasi kebangkitan ekonomi warga organisasi Islam terbesar di Indonesia itu, yang ada di Provinsi Lampung. Sabtu (10-1), mereka menggelar Lokakarya Kopeasi bertema Strategi Pengembangan Lembaga Keuanan di lingkungan Nahdlatul Ulama dan Implikasinya terhadap Kesejahteraan Warga NU.

     Acara yang digelar di aula Kampus setempat itu menghadirkan Dirut Induk Koperasi Syirkah Muawanah Nusantara (Inkopsinus) yang sekaligus juga Fasilitator dan Eksekutor Program Pemberdayaan Ekonomi PBNU, Fahmi Akbar Idris. Selain para pengurus cabang NU, sedikitnya tercatat 53 menejer ataupun pengurus koperasi jasa keuangan syariah (KJKS) hadir pada kesempata itu.

     Kegiatan yang diprakarsai Ketua Prodi Perbankan Syariah itu menghasilkan terbentuknya Asosiasi Koperasi Warga Nahdlatul Ulama (ASKOWANU) Lampung. Para peserta lokakarya mempercayakan Wakil Rektor II IAIM-NU, Subandi, sebagai ketuanya. Beberapa orang juga ditunjuk untuk melengkapi kepengurusan sehingga bisa segera menyusun program.

     Fahmi mengaku bangga dengan kebangkitan ekonomi warga NU di Lampung, khususnya Metro. Sebagai apresiasi atas prestasi tersebut, dia bernjanji akan menggelontorkan dana pinjaman Rp1,2 miliar untuk 20 koperasi jasa keuangan yang yang mengajukan proposal, mendapat persetujuan dari ASKOWANU, dan lolos seleksi.

     “Jadi, kami tidak hanya siap memberikan bimbingan teknis dan nonteknis bagi pengembangan jasa keuangan warga NU. Itu sudah tugas kami dan akan kami lakukan secara regular maupun insiden. Namun, kami juga mencarikan dan menggelontorkan dana pinjaman bagi pengembangan koperasi koperasi yang ada,” ujarnya.

     Lelaki yang juga dosen UGM itu mengharapkan kegiatan warga NU tidak boleh hanya berkutat pada kelompok-kelompok pengajian atau sosio religious. Akan tetapi, semua harus berpikir dan berupaya untuk mengembangkan kegiatan itu menjadi sosio ekonomi religious. Hal itu, dimaksudkan agar pada warga NU muncul pemikiran bahwa pengajian mampu memberi mereka kesejahteraan.

     “Ini harus segera dimulai dan terus dikembangkan,”ingat dia. Para pengurus komunitas harus segera membentuk dan terus mengembangkan kuantitas maupun kualitas lembaga melalui pengembangan sumberdaya manusia, teknologi, maupun permodalan. Jika lembaga ini berkembang, maka NU dan seluruh warganya juga akan semakin sejahtera.

     Rektor IAIM NU, Mispani, mengatakan pihaknya berkepentingan terhadap KJKS di Lampung. Sebab, pihaknya bisa bersinergi untuk meningkatkan ilmu dan keterampilan seluruh pengelola melalui pendidikan perbankan syariah. Sebaliknya, seluruh koperasi bisa menjadi laboratorium bagi para mahasiswanya saat praktik kerja lapangan (PKL) maupun magang. n NUD

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*
Website